News Update :

PANGERAN PANDE GELANG DAN PUTRI CADASARI

Penulis : Muhammad Nasheh Ulwan on Sabtu, 30 Maret 2013 | 00.10

Sabtu, 30 Maret 2013

ilustrasi

DI tengah sebidang kebun manggis, seorang putri yang cantik jelita duduk termenung. Sorot matanya kosong, bibirnya terkatup rapat menandakan dia sedang bermuram durja.
Tidak jauh dari tempat sang Putri duduk, melintaslah seorang lelaki paruh baya dengan karung di pundaknya. Lelaki itu tertegun sesaat manakala melihat sang Putri. Wajah lelaki itu tampak penuh kekhawatiran.
"Sampurasun," sapanya.
Sang Putri tak menyahut. Dia benar-benar larut dalam kesedihannya, sehingga tidak menyadari kehadiran lelaki itu.
"Sampurasun," Lelaki itu mengulang sapa.
"Ra... rampes," Sang Putri terkejut. "Si... siapa?"
"Maaf jika saya telah mengejutkan Tuan Putri," kata lelaki itu seraya menundukkan kepalanya.
Sang Putri tidak segera menjawab. Dia memperhatikan penuh seksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Wajah lelaki itu tidaklah tampan, kulitnya pun legam. Namun Putri merasa yakin, lelaki itu adalah lelaki baik. Seumpama buah manggis: hitam dan pahit kulitnya, tapi putih dan manis buahnya.
"Sedari tadi tadi saya perhatikan, Tuan Putri tampak gundah gulana. Ada apa gerangan?"
"Saya kira tak ada guna menceritakan masalah yang saya hadapi kepada orang lain."
"Kalau begitu, maafkan saya telah mengganggu Tuan Putri. Saya berharap Tuan Putri berkenan melupakan pertanyaan saya tadi," ujar lelaki itu seraya hendak berlalu.
"Tunggu, Kisanak. Jangan pergi dulu!" Sang Putri mencegah.
Lelaki itu mengurungkan niatnya. Sejenak dia melirik sang Putri.
"Sekali lagi maafkan saya," pinta sang Putri. "Bukan maksud saya menyinggung perasaan Kisanak, apalagi menganggap rendah."
Beberapa saat sang Putri terdiam. Kemudian tiba-tiba saja matanya membasah. Sang Putri menangis.
Lelaki itu duduk di dekat sang Putri. Hatinya diliputi keingintahuan yang besar tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Siapa nama Kisanak?" tanya sang Putri.
"Saya... saya pembuat gelang. Pande gelang. Orang-orang sering memanggil saya dengan sebutan Ki Pande."
"Baiklah, Ki Pande. Saya akan bercenta, mudah-mudahan cerita saya akan menghilangkan penasaran Ki Pande. Selama ini saya tidak pernah menceritakan masalah ini kepada orang lain karena saya merasa hanya akan sia-sia belaka. Tidak akan ada seorang pun yang bisa membantu saya," jelas sang Putri dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi mengapa Tuan Putri mau menceritakannya kepada saya?"
"Saya hanya ingin menghilangkan penasaran Ki Pande,"
Ki Pande tidak berkata-kata lagi. Dia hanya menundukkan kepala dengan hati dipenuhi rasa iba.
"Nama saya Putri Arum ...." sang Putri memulai centanya.
Menurut Putri Arum, dirinya sedang mendapat tekanan dari seorang pangeran bernama Pangeran Cunihin. Meskipun tampan, Pangeran Cunihin sangatlah bengis dan kejam. Selain itu, Pangeran Cunihin pun sangat berkuasa dan sakti mandraguna. Apa pun yang diinginkannya harus terpenuhi. Semua titah tak bisa berbantah.
"Saya sangat sedih, Ki, karena dia akan menjadikan saya sebagai istrinya," Putri Arum mengakhiri ceritanya.
"Saya ikut bersedih," Ki Pande tak kuasa menahan airmata. "Maafkan saya, karena tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu Putri."
"Saya mengerti, Ki. Tidak ada seorang pun yang bisa mengakhiri angkara Pangeran Cunihin," ujar Putri Arum lirih. "Tadinya saya mengira wangsit yang saya terima benar adanya."
"Wangsit?" tanya Ki Pande.
"Ya. Menurut wangsit, saya harus menenangkan diri di bukit manggis ini. Kelak katanya akan ada seorang pangeran yang baik hati, manis budi pekertinya, dan sakti mandraguna, yang datang menolong saya. Namun penantian ini hampir sia-sia. Tiga hari lagi Pangeran Cunihin akan datang dan memaksa saya kawin dengannya. Barangkali ini sudah suratan takdir saya, Ki, sebab setelah sekian lama, dewa penolong yang hatinya seputih dan semanis buah manggis itu ternyata tak kunjung tiba," tutur Putri Arum menghiba.
Mendengar hal tersebut, KI Pande mengenyitkan dahi, seolah ada yang tengah dipikirkannya.
"Oh, tadi Aki mengatakan bahwa tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membantu saya?" tanya Putri Arum, teringat kata-kata Ki Pande.
"Benar," jawab Ki Pande.
"Itu berarti, meskipun sedikit ada yang bisa Aki lakukan untuk saya!" seru Putri Arum, penuh harap.
"Barangkali itu tidaklah berarti," kata Ki Pande.
"Katakan saja, Ki," Putri Arum penasaran.
"Saya hanya ingin menyumbang saran. Terima saja keinginan Pangeran Cunihin itu."
"Apa Aki sudah gila? Bagaimana saya mau dipersunting lelaki yang sangat saya benci?" sergah Putri Arum dengan wajah memerah.
Ki Pande sangat terkejut dengan perubahan itu, tapi dia berusaha tetap tenang. "Maksud saya, terima saja keinginan dia tapi dengan syarat."
"Dengan syarat?" tanya Putri Arum setengah bergumam.
"Ya, dengan syarat yang sangat susah dipenuhi."
"Hal apa yang tidak bisa dilakukan Pangeran Cunihin? Dia sangat sakti mandraguna. Laut saja bisa dikeringkannya!"
"Yakinlah, Tuan Putri. Tidak semua orang akan jaya selamanya," Ki Pande berusaha meyakinkan Putri Arum.
"Kalau begitu, apa syarat yang Aki maksudkan?"
"Pangeran Cunihin harus melubangi batu keramat supaya bisa dilalui manusia. Kemudian batu tersebut harus diletakkan di pesisir pantai. Semuanya harus dikerjakan tidak lebih dan tiga hari," Ki Pande menjelaskan.
"Bukankah syarat itu sangat mudah dilakukan oleh Pangeran Cunihin?"
"Tapi tidak semua orang mau melakukannya. Sebab dengan melubangi batu keramat, setengah dari kemampuan orang tersebut akan hilang."
"Setelah itu"" tanya Putri Arum.
"Serahkan semuanya kepada saya!"
Mendengar seluruh penjelasan Ki Pande, akhirnya Putri Arum menyetujui. Ki Pande kemudian mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya, sambil membawa karung yang berisi alat-alat membuat gelang.
Perjalanan menuju tempat tinggal Ki Pande sangat melelahkan Putri Arum. Sudah hampir setengah hari perjalanan, mereka belum juga sampai. Putri Arum pun jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas. Orang-orang kampung membantu Ki Pande rnembawa Putn Arum ke rumah salah seorang penduduk dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Salah seorang tetua kampung mengatakan bahwa Putri Arum bisa segera pulih jika minum air gunung yang memancar melalui batu cadas.
Beberapa orang kampung bergegas mencari sumber mata air batu cadas. Dan keajaiban pun terjadi, Putri Arum kembali sehat setelah meminum air yang berasal dari batu cadas itu. Penduduk kampung lalu memanggil Putri Arum dengan sebutan baru yaitu Putri Cadasari.
Sementara itu, Ki Pande tengah menyiapkan rencana baru. Dia membuat gelang yang sangat besar, yang bisa dilalui manusia. Menurut Ki Pande, gelang tersebut akan dipasang pada lingkaran lubang batu keramat yang dibuat Pangeran Cunihin.
Waktu yang ditentukan Pangeran Cunihin pun tiba. Dia datang menemui Putri Cadasari dan menagih jawaban. Putri Cadasan pun mengajukan syarat kepada Pangeran Cunihin.
"Hahaha, itu syarat yang sangat gampang, Tuan Putri. Tapi apa maksud dari syarat itu?" tanya Pangeran Cunihin.
Putri Cadasari terkejut mendapat pertanyaan seperti Itu. Tapi dia segera menyembunyian keterkejutannya. "Saya hanya ingin agar bulan madu kita tidak terganggu, Pangeran. Duduk di atas batu sambil menikmati birunya laut, bukankah itu sangat menyenangkan, Pangeran?" jelas Putri Cadasari.
"Wah, Tuan Putri memang sangat romantis!" puji Pangeran Cunihin, pula.
Tak sampai tiga hari dan tanpa halangan yang berarti, Pangeran Cunihin berhasil menemukan batu keramat yang disyaratkan. Batu keramat itu kemudian dibawanya ke sebuah pesisir yang sangat indah. Ki Pande dan Putri Cadasari diam-diam mengkuti dari kejauhan. Di tempat yang terlindung mereka bersembunyi, menyaksikan apa yang dilakukan Pangeran Cunihin.
Pangeran Cunihin tampak duduk bersila di hadapan batu keramat. Dengan konsentrasi penuh, Pangeran Cunihin menempelkan dua telapak tangannya ke batu keramat. Tiba-tiba tangan Pangeran Cunihin bergetar. Sesaat kemudian batu keramat itu pun retak dan berjatuhan. Sungguh ajaib, sebuah lubang yang sangat besar tercipta di tengah batu keramat itu.
"Hahaha, aku berhasil. Tuan Putri akan segera menjadi milikku!" Pangeran Cunihin mengangkat kedua tangannya seraya berlari mencari Putri Cadasari.
Kesempatan itu tak disia-siakan Ki Pande untuk memasang gelang besar pada batu keramat yang telah berlubang Itu. Setelah itu dia kembali hendak bersembunyi, tapi didengarnya sebuah bentakan keras.
"Heh tua bangka, sedang apa kau di sini?!"
Ternyata Pangeran Cunihin telah berada kembali di situ, bersama Putri Cadasari.
"0, aku tahu. Rupanya kau sedang mengagumi mahakaryaku. Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa kau tidak pantas menjadi pemenang. Kau hanya pantas menjadi pecundang! Hahaha!" Pangeran Cunihin tertawa puas. "Lihatlah, sang Putri telah menjadi milikku. Kau tidak bisa lagi memilikinya!"
Putri Cadasari terkejut heran mendengar omongan Pangeran Cunihin, seolah telah mengenal Ki Pande sebelumnya. Namun belum lagi keheranan itu terjawab, Pangeran Cunihin telah menarik tangan Putri Cadasari untuk melihat batu keramat yang telah berlubang itu.
"Tuan putri, lihatlah! Keinginan Tuan Putri telah terwujud. Sebuah batu besar berlubang di pesisir pantai. Sungguh sebuah tempat yang indah dan romantis," kata Pangeran Cunihin.
Putri Cadasari berusaha bersikap tenang dan mencoba menunjukkan kegembiraan, w alau di dalam hatinya dia merasa sangat takut impian buruknya menjadi pendamping Pangeran Cunihin akan menjadi kenyataan.
"Apa karena terlalu gembira saya seakan tidak bisa melihat bahwa batu ini telah berlubang?" kata Putri Cadasan.
"Hm, baiklah. Jika Tuan Putri tidak percaya, saya akan melewati batu ini untuk membuktikannya," jawab Pangeran Cunihin.
Tanpa berpikir panjang, Pangeran Cunihin kemudian berjalan melewati lubang batu keramat itu. Tapi tiba-tiba Pangeran Cunihin merasakan tubuhnya sakit luar biasa. Dia berteriak-teriak sekuat tenaga. Suaranya memecah angkasa. Lalu seluruh kekuatannya pun menghilang. Dia terduduk lemah, tak kuasa berdiri. Perlahan, Pangeran Cunihin berubah menjadi seorang tua renta tanpa daya, seolah telah melewati lorong waktu. Sementara itu, KI Pande pun berubah menjadi seorang pemuda tampan.
"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Putri Cadasari tidak mengerti menyaksikan keanehan-keanehan itu.
"Sebenarnya ini semua akibat perbuatan Pangeran Cunihin. Dulu kami berteman. Tapi setelah mendapat kesaktian dari guru, dia mencuri seluruh ilmu dan kesaktian saya, lalu menjadikan saya sebagai seorang yang sudah tua. Saya kemudian mencari kesaktian untuk mengembalikan keadaan saya. Ternyata hanya satu yang bisa mengembalikan keadaan itu, yakni Jika Pangeran Cunihin melewati gelang-gelang buatan saya," terang Ki Pande seraya menatap ke arah Pangeran Cunihin yang terkulai tak berdaya.
"Kini saya telah kembali seperti sedia kala. Ini semua karena jasa Tuan Putri. Untuk itu saya menghaturkan terima kasih," ujar Pangeran Pande Gelang, menggenggam tangan Putri Cadasari.
"Ah, sayalah yang seharusnya berterima kasih, Pangeran. Ternyata wangsit yang saya terima itu memang benar."
Akhirnya, keduanya meninggalkan batu keramat berlubang itu. Beberapa waktu kemudian mereka pun menikah dan hidup berbahagia sampai akhir hayatnya.
Tempat mengambil batu keramat tersebut kemudian dikenal dengan kampung Kramatwatu, dan batu besar berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan tempat sang Putri melaksanakan wangsit di bukit manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Manggis dalam bahasa Sunda berarti Manggu dan pasir berarti bukit. Sementara tempat Putri disembuhkan dari sakitnya sampai kini bernama Cadasari di daerah Pandeglang, tempat Pangeran Pande Gelang membuat gelang.
komentar | | Read More...

Legenda Gunung Pinang Banten

ilustrasi
SEMILIR angin senja pantai teluk Banten mempermainkan rambut Dampu Awang yang tengah bersender di bawah pohon nyiur. Pandangannya menembus batas kaki langit teluk Banten. Pikirannya terbang jauh. Jauh sekali. Meninggalkan segala kepenatan hidup dan mengenyahkan kekecewaan atas ibunya. Menuju suatu dunia pribadi dimana hanya ada dirinya sendiri. Ya, hanya dirinya.
"Ibu tidak akan izinkan kamu pergi, Dampu." Dia teringat kata-kata Ibunya tadi pagi.
"Tapi, Bu..." sergah Dampu Awang.
"Tidak! Sekali tidak, tetap tidak!'' Wajah ibunya mulai memerah. "Ibu tahu, nong. Kamu pergi supaya kita tidak sengsara terus. Tapi ibu sudah cukup dengan keadaan kita seperti ini," lanjut ibunya sambil terus menginang.
"Ibu, Dampu janji. Kalau Dampu pulang nanti, Dampu akan membahagiakan ibu. Dampu akan menuruti segala perintah ibu. Coba ibu bayangkan, nanti kita akan kaya, Bu. Kita akan bangun rumah yang besar seperti rumah para bangsawan." Dampu Awang merayu ibunya.
"Dampu ... Ibu lelah," ujar ibunya. "Ibu sudah bosan mendengar ocehanmu tentang harta kekayaan. Setiap hari kamu selalu saja melamun ingin cepat kaya"
Perkataan itu betul-betul menohok tepat di ulu hati Dampu.
"Kamu tahu nong," Ibu melanjutkan ceramahnya. "Ibu masih kuat sampai sekarang, itu karena kamu. Karena masih ada kamu, Dampu. Nanti kalau kamu pergi, siapa yang menemani ibu? Sudahlah, Dampu... Ibu sudah lelah"

Selepas shalat maghrib Dampu Awang kembali menemani laut dari beranda rumah. Wajahnya masih menyisakan harapan sekaligus kekecewaan yang teramat sangat mendalam. Batinnya terus menerus bergejolak. la masih kesal dengan ucapan ibunya.
Apakah ibu tidak tahu di Malaka sana banyak sekali pekerjaan yang akan membuat aku kaya? ujar Dampu dalam hati. Dan kalau aku kaya, tentu ibu akan turut kaya raya. Seharusnya ibu melihat jauh ke masa depan, kita tidak akan kaya kalau kita selamanya hidup di kampung nelayan miskin ini terus.
Kesempatan ini telah lama aku nantikan. Seorang saudagar asal Samudera Pasai datang berdagang ke Banten. Setelah satu bulan lamanya menetap di Banten, kini saatnya saudagar itu angkat sauh dan kembali berlayar ke negeri asal. Tinggal satu minggu lagi, kapal itu akan berlabuh. Namun, ibu belum juga memberikan izin.
"Dampu..." ucap ibunya lembut, khawatir mengagetkan anaknya.
Dampu melihat ibunya tersenyum. Di matanya ada kehangatan cinta yang mendalam. Batin Dampu kembali terguncang. Hatinya terus bertanya-tanya.
"Ada apa, Ibu?" tanya Dampu.
Ibu hanya tersenyum. Matanya meneravvang mencari bintang di langit cerah kemudian memandang' deburan ombak di lautan yang bersinar karena ditimpa sinar gemerlap rembulan.
Betapa bahagia hati Dampu Awang mendengar ibunva memberi izin. la merasakan dadanya menghangat. seolah diselimuti pusaran energi yang dahsyat. Matanya mulai berembun. Dampu Awang pun membentuk sebuah lengkungan manis di bibirnya.
"Terima kasih, Ibu..."
Deburan ombak, semilir angin laut, bau asin pantai, kepak sayap burung-burung camar, lambaian orang-orang kampung, mengiringi kepergian rombongan saudagar dari pelabuhan. Dampu Awang melihat ibunya meratapi kepergiannya. Sebening embun menggenang di pelupuk mata. Masih terngiang di telinganya petuah-petuah yang diberikan ibunya sesaat sebelum ia pergi.
"Dampu..." ujar ibunya, "Ibu titip si Ketut. Kamu harus merawat si Ketut baik-baik, ya nong. Si Ketut ini dulunya peliharaan bapakmu. Bapakmu dulu sangat menyayangi si Ketut. la sangat mahir sebagai burung pengirim pesan. Kamu harus rutin mengirimi ibu kabar. Jaga baik-baik si Ketut seperti kamu menjaga ibu, ya nong," Ibu melanjutkan petuah-petuahnya. Air matanya sudah tidak mampu dibendung lagi.
"Enggih, Bu." Hanya itu yang mampu Dampu ucapkan saat ibunya memberikan puluhan petuah sebelum Dampu berlayar. Tapi ia berjanji akan mengirimi Surat untuk Ibunya tercinta setiap awal purnama.
Setiap hari, saat bola api langit masih malu-malu menyembulkan jidatnya di permukaan bumi, Dampu Awang bekerja membersilikan seluruh galangan kapal dan merapihkan barang-barang di kapal saudagar Teuku Abu Matsyah.
Hari berganti, bulan bergulir, tahun bertambah. Dampu Awang kini terkenal sebagai pekerja yang rajin. Tak aneh, jika Teuku Abu Matsyah begitu perhatian padanya. Bahkan Siti Nurhasanah, putri Teuku Abu Matsyah, diam-diam menaruh hati padanya. Hingga suatu hari Teuku Abu Matsyah memanggil Dampu Awang untuk berbicara empat mata.
"Dampu..." Ujar Abu Matsyah mengawali pembicaraan.
"Saya, Juragan"
"Kita Sudah saling kenal lebih dari lima tahun. Itu bukanlah waktu yang sebentar untuk saling mengenal," suara Abu Matsyah terdengar berat. -Saya kagum dengan kerajinanmu, Dampu."
"Terima kasih, Juragan"
"Karena itu, saya berniat untuk menjodohkan kamu dengan putriku. Siti Nurhasanah," kata Abu Matsyah seraya menyisir-nyisir janggut putihnya.
Dampu Awang terkejut bukan main. la tak menyangka Teuku Abu Matsyah berbuat sejauh ini. Diam-diam ia memang mencintai Siti Nurhasanah, tapi apa pastas? Lantas bagaimana dengan restu ibunya di Banten'? Apakah ia marnpu membahagiakan Siti? Berpuluh-puluh pertanyaan bersarang di kepala Dampu Awang.
"Bagaimana, Dampu?" Pertanyaan Abu Matsyah membawa Dampu Awang kembali ke alam nyata.
"Maaf, Juragan. Saya bukan rnenolak niat baik juragan." Dampu menanti saat yang tepat. "Tetapi apakah saya pastas?"
"Jadi kamu menolak niat baik saya, Dampu?"
"Maaf. Juragan. saya tidak berani menolak niat baik juragan. Tapi ..."

Sudah satu dasawarsa Dampu Awang meninggalkan tanah kelahirannya. la hanya mengirimkan empat kali surat kepada ibunva di Banten. Hingga suatu hari, tersiarlah kabar akan ada saudagar besar dari Malaka. Kabar itu merembet dengan cepat seperti kecepatan awan yang ditiup angin. Setiap orang ramai membicarakan kekayaan saudagar itu.
"Jangan-jangan Dampu Awang pulang," ujar ibunya sumringah. "Dampu Awang, putraku, akhirnya pulang." Ujar ibunya lagi. Dari suaranya tercermin jelas keharuan dan kegembiraan yang tiada terkira. Yang tidak akan mampu terangkum dalam rangkaian kata atau terlalu besar untuk disimpan di dalam gubuk reotnya.
"Alhamdulillah, hatur nuhun Gusti Allah. Alhamdulillah... Alhamdulillah... Alhamdulillah," berkali-kali wanita itu berucap syukur.
"Woi! Kapalnya sudah datang!" seseorang berseru dari arah pantai
"Hei lihat! Kapalnya besar sekali!" sahut orang yang lain.
Kapalnya luar biasa besar dan megah. Sampai-sampai membentuk bayangan di pantai. Kayunya dari bahan kayu pilihan. Layarnya luas terbentang. Para awak kapal yang gagah tengah sibuk menurunkan barang bawaan.
Penduduk Banten semakin lama semakin banyak yang merubungi pantai. Mereka penasaran siapa yang datang berkunjung. Ibu Dampu Awang adalah salah satu diantara lautan manusia yang semakin membludak saja itu. Tampang Ibu Dampu Awang lusuh bukan main, bahkan pakaiannya lebih kumal dibanding bendera kapal megah itu.
Sementara itu, di dalam kapal Dampu Awang gelisah. la sekarang sudah menjadi pewaris kekayaan tunggal dari Teuku Abu Matsyah. Sejak Dampu menikah dengan Siti Nurhasanah, mertuanya itu mempercayakan seluruh harta kekayaannya kepada Dampu. Selang beberapa lama Teuku Abu Matsyah meninggal dunia. Dan kini, namanya sudah tersohor menjadi pedagang yang kaya raya dari Malaka.
Sengaja ia singgah di kampung halamannya, ingin melihat apakah ibunya masih hidup. Hanya untuk sekadar melihat saja. Ratusan pasang tatap mata mengiringi seorang lelaki tampan nan gagah yang keluar dari ruangan kapal. Bajunya terbuat dari kain emas dan pecinya sangat indah sekali. Di pinggangnya terselip golok sakti yang menjadi idaman setiap pendekar. Di pundaknya bertengger seekor burung perkutut yang terlihat sangat sehat.
Di samping lelaki itu terdapat seorang perempuan cantik yang digapitnya mesra. Dia pasti istrinya. Wajahnya putih bersih dan bercahaya. Sedangkan rambutnya hitam legam seperti langit malam. Suatu kombinasi yang sempurna. Cantik sekali!
"Dampuuuuuu! Dampu Awaaaaaang! Ini Ibu. Di sini. Sebelah sini!" teriak Ibu Dampu Awang sambil melambai-lambaikan tangan. Mendadak wanita tua itu kembali mendapatkan tenaganya kembali. Gairah yang ia rasakan seperti dulu sebelum Dampu Awang, putranya, pergi.
"Dampu Awaaaaaang!" teriak sang ibu sekali lagi.
Semua perhatian terpusat pada Ibu Dampu Awang yang dari tadi berteriak-teriak. Semua heran, apa betul wanita tua dekil ini adalah ibu dari saudagar yang kaya raya itu.
"Kang Mas, apa betul dia ibumu?" tanya istri Dampu Awang. "Mengapa Kang Mas tidak pernah cerita, kalau orang tua Kang Mas masih hidup'?"
"Tidak! Wanita tua itu bukan ibuku!" tampik Dampu Awang dengan cepat. "Dia hanya seorang wanita gila yang sedang meracau!"
Dari atas kapal Dampu Awang menatap kerumunan penduduk yang wajahnya tampak kebingungan.
"Wahai penduduk Banten!" seru Dampu Awang. "Tidak usah bingung. Dia bukan ibuku. Kedua orang tuaku sudah mati. Mereka adalah manusia terhormat yang kaya raya. Bukan seperti wanita tua itu yang berpakaian compang camping dan miskin sengsara!"
Perkataan Dampu Awang tadi bagai petir di siang bolong. Seperti ada godam besar yang menghujam berkali-kali ke sanubari Ibu Dampu Awang. Perasaannya lebih sakit dibanding saat kematian suaminya atau saat melepas putranya berlayar.
"Hei, wanita tua gila!" Dampu Awang menunjuk ibunya. "Aku tidak pernah mempunyai ibu sepertimu. Demi Allah, ibuku adalah seorang yang kaya raya, bukan seorang wanita miskin yang hina sepertimu!"
Luka yang ditorehkan oleh ucapan Dampu Awang itu semakin membesar. Menganga di dalam hati sang ibu. Sang ibu tertunduk lesu. la bersimpuh di atas kedua lutut keriputnya.
"Nakhoda, cepat kita pergi dari sini. Batalkan janji bertemu dengan Sultan. Kita akan lanjutkan perjalanan!" Dampu Awang memerintah. la harus lekas pergi sebelum orang-orang tahu kalau wanita tua yang dekil itu adalah ibu kandungnya. Mau ditaruh di mana mukaku, ujarnya dalam hati.
Sang ibu tertunduk lesu. Air matanya semakin tidak terbendung. Harapan, kebahagian, kegembiraan, suka cita, yang telah dihimpunnya selama puluhan tahun, kini seolah semuanya telah menguap tanpa bekas. Penantiannya selama puluhan tahun harus berakhir dalam kesakithatian yang semakin mendalam.
"Duhai, Gusti. Hampura dosa," Ibu Dampu awang berdoa. "Kalau memang benar dia bukan anakku, biarkan ia pergi. Tapi kalau dia adalah putraku, hukumlah ia karena telah menyakiti perasaan ibunya sendiri." Ibu Dampu Awang khusyuk berdoa. Khidmat.
Tiba-tiba langit gelap. Awan-awan hitam datang tanpa diundang. Berkumpul menjadi satu kesatuan. Hitam dan besar. Hingga sinar matahari pun tidak mampu lagi terlihat. Siang hari yang cerah mendadak seperti malam yang gelap gulita. Petir. Kilat. Guntur. Saling sambar menyambar. Hujan deras.
"Ada badai. Cepat berlindung!" teriak seorang warga.
Langit muntah. Langit muntah. Muntah besar. la menumpahkan segala yang dikandungnya. Dunia serasa kiamat. Dampu Awang beserta kapalnya terombang-ambing di lautan. Dipermainkan oleh alam. Allah telah menjawab rintihan seorang hamba yang didzalimi. Para awak kapal ketakutan, mereka ramai-ramai menerjunkan diri ke laut. Petir menyambar galangan kapal dan layar. Tiang-tiang kapal tumbang.
Tiba-tiba keajaiban terjadi. Si Ketut bisa bicara. "Akuilah....Akuilah... Akuilah ibumu, Dampu Awang."
"Tidak! Dia bukan ibuku! Dia bukan ibuku. Ibuku telah mati!" sergah Dampu Awang.
"Akuilah....Akuilah... Akuilah ibumu, Dampu Awang" si Ketut mengulangi ucapannya.
"Ya Allah, berilah pelajaran yang setimpal sebagaimana yang ia lakukan padaku," Ibu Dampu Awang kembali berdoa.
Angin puyuh besar pun datang. Meliuk-liuk ganas di atas laut. Menyedot dan terus berputar. Kapal Dampu Awang ikut tersedot. Kapal Dampu Awang terbang masuk ke dalam pusaran angin puyuh. Berputar-putar. Terus berputar dalam pusaran angin puyuh.
"lbuuuuuu, tolong aku! Ini anakmu Dampu Awang!" Dampu Awang berteriak ketakutan.
Sang Ibu tetap tidak bergeming.
Kapal yang berisi segala macam harta kekayaan itu dipermainkan oleh angin. Berputar-putar. Dan akhirnya terlempar jauh ke selatan. Jatuh terbalik.
Menurut penuturan masyarakat, kapal Dampu Awang yang karam berubah menjadi Gunung Pinang. Gunung itu terletak tepat di samping jalur lalu lintas Serang - Cilegon, kecamatan Kramat Watu, kabupaten Serang, propinsi Banten. Hingga kini, setiap orang dengan mudah dapat menyaksikan simbol kedurhakaan anak pada ibunya itu.
komentar | | Read More...

Cerita Batu Kuwung

DAHULU pernah hidup seorang saudagar kaya raya yang mempunyai hubungan sangat erat dengan kekuasaan Sultan Haji. anak dari Sultan Ageng Tirtayasa. Karena kedekatannya tersebut, sang Saudagar mendapat hak monopoli perdagangan beras dan lada dari Lampung. Tak ayal, usahanya pun maju pesat.
Harnpir semua tanah pertanian di desa-desa yang berdekatan dengan tempat tinggal sang Saudagar menjadi miliknya. la membeli tanah-tanah tersebut dari para petani dengan harga yang rendah. Biasanva setelah petani-petani tersebut tidak mampu lagi mernbayar hutang dengan bunga yang beranak-pinak dan sudah habis jatuh tempo kepada sang Saudagar.
Selain itu, sang Saudagar diangkat menjadi seorang kepala desa di ternpat tinggalnya. Tetapi ia menyalahgunakan kekuasaan yang diberikan dengan memungut pajak yang lebih tinggi dari tarif yang diharuskan. Karena kekayaan dari kekuasaannya itu, ia menjadi orang yang sangat sombong dan seringkali bertindak sewenang-sewenang.
Sang Saudagar juga sangat kikir. Apabila ada orang, lain tertimpa musibah dan membutuhkan pertolongan, ia sama sekali tidak mau memberikan bantuan. Bahkan saking pelitnya, ia tidak mau menikah meskipun umurnya telah berkepala empat. Baginya. menikah dan memiliki anak adalah suatu pemborosan.
la hidup bermewah-mewahan, sedangkan orang-orang di sekitarnya dirundung kemiskinan, sehingga sangat beralasan, jika hampir semua penduduk desa membencinya. Untuk melindungi harta dan nyawanya saja, ia memelihara beberapa orang pengawal pribadi.
Syahdan, suatu hari di desa tempat tinggal sang Saudagar kaya raya itu, lewatlah seorang sakti yang menyamar sebagai seorang pengemis lapar dengan kaki pincang. Sebelumnya, Orang Sakti ini sudah tahu mengenai perangai buruk sang Saudagar, dikarenakan keburukannya sudah jadi obrolan rutin penduduk, di pasar atau di warung-warung kopi. la datang ingin memberi pelajaran dan menyadarkan sang Saudagar yang sombong dan kikir tersebut.
Maka, si Pengemis berkaki pincang yang tidak lain adalah seorang sakti itu mampir menemui sang Saudagar di rumahnya yang besar dan mewah. Si Pengemis mengutarakan maksudnya menemui sang Saudagar untuk meminta sedikit makanan pengganjal perut dan sedikit kekayaan sebagai modal usaha.
Tetapi sang Saudagar memang sangat kikir. Bukannya memberi, ia malah memaki-maki si Pengemis berkaki pincang.
"Hal pengemis hina, apa kau pikir kekayaan yang kumiliki sekarang ini jatuh begitu saja dari langit, heh?! Enak saja kau meminta-minta kepadaku, dasar pemalas!" hardik Sang Saudagar seraya mendorong tubuh si Pengemis berkaki pincang, hingga jatuh tersungkur mencium tanah.
Mendapat perlakuan seperti itu, si Pengemis berkaki pincang pun murka. la memperingatkan bahwa sang Saudagar akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.
"Hai Saudagar yang sombong dan kikir, kau pun harus merasakan betapa lapar dan menderitanya aku!" ujar si Pengemis berkaki pincang. Setelah berkata demikian, segera si Pengemis berkaki pincang raib dari pandangan mata. Melihat kejadian tersebut sang Saudagar terkejut bukan main.
Benar saja. Esok hari ketika sang Saudagar bangun dari tidur, ia tidak dapat menggerakkan kedua kakinya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menggerakkan kakinya, tetapi tetap saja tidak bisa. Sang Saudagar pun panik. la bertenak-teriak histeris. Para pengawal pribadinya segera berdatangan mendengar teriakan sang Saudagar tersebut.
Jadilah sang Saudagar menderita kelumpuhan pada kedua kakinya. la memerintahkan kepada pengawal pribadinya mencari tabib-tabib sakti untuk mengobati kakinya yang lumpuh. Ia menjanjikan imbalan yang sangat tinggi bagi slapa saja yang dapat menyembuhkannya.
Namun, meski sudah banyak tabib berusaha mengobati, tak satu pun yang berhasil. Oleh sebab itu ia pun berjanji akan memberikan setengah dari harta kekayaannya bagi siapa saja yang dapat menyembuhkannya dari kelumpuhan.
Si Pengemis berkaki pincang mendengar janji tersebut. Maka ia pun datang menemui sang Saudagar dan menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi sebab kelumpuhan kaki sang Saudagar.
"Semua ini adalah ganjalan atas sifatmu yang kikir dan sombong. Agar kakimu sembuh dari kelumpuhan kau harus melaksanakan tiga hal. Pertama, kau harus bisa merubah sifat sombong dan kikirmu itu.
Kedua, kau harus pergi ke kaki Gunung Karang dan carilah sebuah Batu Cekung. Lalu bertapalah kau selama tujuh hari tujuh malam di atas Batu Cekung tersebut, tanpa makan dan minum. Dan ingat, apa pun yang akan terjadi jangan sampai kau membatalkan pertapaan yang kau jalani.
Ketiga, apabila kakimu sudah sembuh seperti biasa, kau harus memenuhi janjimu untuk merelakan setengah dari harta kekayaan tersebut kepada orang-orang miskin di tempat tinggalmu". Setelah berkata demikian, lagi-lagi si Pengemis berkaki pincang tersebut raib begitu saja dari pandangan mata. Sang Saudagar pun sadar bahwa si Pengemis berkaki pincang tersebut bukan orang sembarangan.
Kemudian berangkatlah sang Saudagar dengan menggunakan tandu yang digotong oleh dua orang pengawal pribadinya, menuju ke kaki gunung Gunung Karang. Setelah berhari-hari melakukan perjalanan melewati jalan setapak yang dikelilingi semak belukar dan pepohonan yang lebat, akhirnya sang Saudagar tiba di kaki Gunung Karang dan melihat sebuah Batu Cekung yang dimaksud si Pengemis berkaki pincang.
Karena perjalanan yang sangat melelahkan dan dilakukan tanpa istirahat, kedua orang pengawal pribadi sang Saudagar jatuh pingsan. Padahal Batu Cekung tersebut tinggal beberapa puluh langkah lagi jaraknya.
Terpaksa, dengan bersusah payah sang Saudagar merayap di tanah untuk mencapai Batu Cekung tersebut. Lalu ia pun segera bertapa di atasnya. Selama tujuh hari tujuh malam ia menahan rasa lapar dan haus karena tidak makan dan minum, juga bertahan dari bermacam-macam godaan lainnya, seperti binatang-binatang liar dan makhluk-makhluk halus yang datang mengganggu.
Pada hari terakhir pertapaan, keajaiban pun terjadi. Dari pusat Batu Cekung tersebut menyemburlah sumber mata air panas. Sang Saudagar menyudahi tapanya, lalu bersegera mandi dengan sumber mata air panas dari Batu Cekung tersebut. Keajaiban terjadi lagi, kedua kakinya yang semula lumpuh kini dapat ia gerakkan kembali.
Seperti janjinya semula, maka sang Saudagar membagi-bagikan setengah dari harta kekayaannya kepada orang-orang miskin di sekitar tempat tinggalnya. Para petani di desanya diberikan tanah pertanian sendin untuk digarap. la juga kemudian menikahi seorang gadis cantik anak seorang petani miskin, yang menarik hatinya. Penduduk desa pun tidak lagi membencinya, ia kemudian dikenal sebagai seorang saudagar yang dermawan.
Apabila ada orang bertamu ke rurnahnya, sang Saudagar kerap kali bercerita, perihal keajaiban sumber mata air panas Batu Cekung di kaki Gunung Karang yang dapat menyembuhkan kelumpuhan kakinya. Lambat laun cerita dari mulut ke mulut itu pun tersebar luas. Banyak orang yang tertarik untuk mendatanginya. Konon, beberapa macam penyakit lain dapat sembuh apabila mandi dengan sumber mata air panas Batu Cekung tersebut.
Kini, orang-orang mengenalnya sebagai objek wisata sumber mata air panas "Batu Kuwung" (yang berarti batu cekung). Objek wisata yang belum dikelola secara profesional ini, masuk ke dalam wilayah Kecamatan Padarincang, Ciomas, berlatar belakang kaki Gunung Karang.
komentar | | Read More...

Sejarah Mersucuar Anyer

Penulis : Muhammad Nasheh Ulwan on Rabu, 27 Maret 2013 | 09.31

Rabu, 27 Maret 2013




Di kawasan Anyer kita dapat menyaksikan menara tua yang disebut Mercusuar Anyer. Menara yang di bangun pada masa pemerintahan Z.M. Willem III setinggi  75,5 meter ini terdiri dari 18 tingkat, dibangun pada masa penjajahan Belanda. Dilihat dari prasasti yang tertempel di kaki mercusuar, bangunan yang terbuat dari baja setebal 2,5cm itu sudah berusia lebih dari 170 tahun, tepatnya dibangun pada tahun 1885. Sampai kini masih berfungsi memandu kapal-kapal yang lalu-lalang di malam hari.
Menara ini diyakini sebagai titik nol jalan Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) yang dibangun Gubernur Jenderal Daendles. Dari sinilah awal mula Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda waktu itu, memulai proyek raksasanya pada 1825.
Daendels membuat jalan ekonomi Anyer-Panarukan sepanjang sekitar 1.000 km. Proyek yang menelan korban ribuan jiwa rakyat Indonesia itu menghubungkan Cilegon, Serang, Tangerang, Jakarta (dulunya bernama Sunda Kelapa, kemudian Batavia), Cirebon, Semarang, Surabaya sampai ke Pasuruan.
Penduduk sepanjang proyek perjalanan tadi bekerja tanpa dibayar atau kerja rodi. Setelah selesai, jalan yang dibangun dari keringat dan mayat bangsa Indonesia kemudian terkenal sebagai jalan Deandels atau jalan rodi. Sayangnya tak ada monument atau prasati untuk mengenang sejarah yang penuh darah itu.
Konon, karena Gunung Krakatau meletus, mercusuar itu hancur lebur. Puing-puing dan pondasinya masih bisa Anda lihat beberapa meter dari mercusuar. Jadi mercusuar yang ada sekarang merupakan bangunan baru.
Bangunan itu pun nyaris rata dengan tanah akibat hantaman meriam angkatan laut Jepang sekitar tahun 1942. Meski tak sampai runtuh, namun mercusuar itu sempat rusak berat. Bekas hantaman meriam itu bisa dilihat apabila Anda naik mercusuar itu, yakni berupa lubang besar yang kini sudah ditambal.
Kini, mercusuar Anyer seakan tenggelam di tengah-tengah maraknya sarana wisata modern, terutama setelah tumbuhnya resor-resor di tepi pantai. Padahal, mercusuar ini menjadi saksi bisu kekejaman penjajahan Belanda.

•    Terjemahan dengan mengunakan Bahasa Daerah (Bahasa Sunda)

Sajarah Mersucuar Anyer
Di kawasan Anyer urang tiasa nyaksikeun menara nu ti baheula ayana anu disebut Mercusuar Anyer. Menara anu dibangun di pamarentahan Z.M Willem III anu luhurna 75,5 meter iyeu aya 18 tingkat, dibangun di panjajahan Balanda. Di tingali ti prasasti anu nempel di suku mercusuar, bangunan anu dijieun ti baja satebal 2,5 cm iyeu berusia leuwih 170 tahun, tepatna dibangun di taun 1885 sampe ayeuna masih berfungsi jadi pamandu kapal-kapal anu bolak balik di peuting poe.
Menara iyeu diyakini sebagai titk nol jalan Anyer (Banten)-Panarukan (Jawa Timur) anu dibangun ku gubernur jendral Deandels, ti dieu awal mula Deandels, gubernur Hindia-Balanda mulai proyek raksasa di taun 1825.
Deandels nyieun jalan ekonomi Anyer-Panarukan nu panjangna sakitar 1000 km. proyek anu ngorbankeun ribuan jiwa rakyat Indonesia iyeu ngahubungkeun Cilegon, Serang, Tangerang, Jakarta (nu baheula nami na Sunda Kalapa, terus Batavia), Cirebon, Semarang, Surabaya, sampe Pasuruan.
Penduduk sapanjang proyek perjalanan tadi nyieun jalan tanpa dibayar atawa kerja rodi. Jalan anu dibangun ti karinget sareng mayat bangsa Indonesia iyeu dikenal sebagai jalan Deandels atawajalan rodi. Sayangna teu aya monument atawa prasasti kanggo ngenang sejarah anu penuh getih.
Konon, karna gunung Krakatau meletus, mercusuar eta hancur lebur. Rarunuhan saremg pondasina masih tiasa ditingali ti mercusuar. Jadi, mersucuar anu aya ayeuna merupakan bangunan baru.
Bangunan iyeu pun nyaris rata sareng taneuh akibat hanteman meriam angkatan laut Jepang sakitar taun 1942. Meski teu sampe roboh, tapi mercusuar iyeu sempet rusak parah. Bekas hanteman meriam iyeu tiasa ditingali lamun naik ka luhur mercusuar eta, yaknu ayana lobang ageung anu ayena ntos ditambal.
Ayeuna, mercusuar Anyer saakan tanggelam di tengah marakna sarana wisata modern, tarutama saentos tumbuhna resor-resor di sisi pantai. Padahal, mercusuar iyeu jadi saksi bisu kakejaman panjajahan Baalanda.

•    Nilai pendidikan
Bisa mengetahui sejarah, mengenang jasa-jasa bangsa Indonesia dan merawat peninggalan-peninggalan sejarah.
•    Nilai Pandidikan
Tiasa terang ka sajarah, ngenangkeun jasa-jasa bangsa Indonesia sareng ngarawat paninggalan-paninggalan sajarah.
•    Sumber
Pak Sapriudin
komentar | | Read More...

Asal Muasal Batu Lingga

ilustrasi
Berbicara tentang cerita yang ada di Kampung Lingga, Desa Sidamukti, Kecamatan Baros, Kabupaten Serang. Lebih tepatnyadi kampong inilah tempat tinggal yang selalu menuai banyak cerita, meskipun tidak banyak yang saya ketahui, salah satunya Situs Batu Lingga Menhir peninggalan tradisi megalitikum dengan bentuk segilima yang terdapat tujuh batu.

Batu-batu berada di tengah pesawahan berjarak 100 meter dari Kp. Lingga. Batu ini terdapat di salah satu areal sawah dengan posisi terpisah menjadi 5 bagian yang dipagari oleh pagar besi dengan luas 3 x 3 meter. Pada Batu 1 dengan ketinggian 157 cm  dengan diametr 195 cm, Batu 2 dengan ketinggian 110 cm, diameter 170 cm. Batu 4 dengan ketinggian 140 cm, diameter 152 cm, Batu 5 dengan ketinggian 122 cm, diameter 148 cm, Batu 6 dengan ketinggian 195 cm, diameter 191 cm.

Konon kata orang tua dulu sebelum dinamakan Batu Lingga adalah hanya sebuah patok  kayu salungkar tempat mengadu ayam, dan katanya juga disekitar batu itu ada penunggu seekor ular naga dan keris serta harta karun yang terpendam,” Wallahualam!!
Meskipun keadaan batu linga sekarang tidak terawat, namun masih banyak orang yang banyak mengunjungi kampung lingga untuk melihat situs batu lingga,melakukan wisata zairah. Pengunjung berdatangan dari daerah-daerah dan lebih sering dating pada malam hari, baik itu pada malam selasamaupun malam jum’at.

Keberadaan menhir ini telah dilestarikan oleh Balai Pelestarian dan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Serang (BP3S).

Menurut bapak Madhadi selaku masyarakat kp lingga beliau bercerita tentang Situs Batu Lingga, pernah ada seorang petani yang menemukan emas murni sebesar batang rokok saat sedang mencangkul, akan tetapi penemuan itu tidak membuat gempar warga karena memang tidak ingin merusak peninggalan sejarah.
komentar | | Read More...

Asal Muasal Danau Tirta Gangga

Danau Tirta Gangga berada di Kecamatan Seputih Banyak Kabupaten Lampung Tengah, Lampung atau sekitar 60 kilometer dari Kota Gunung Sugih dengan melalui jalan hotmix. Selain memiliki panorama alam yang indah, di lokasi objek wisata Danau Tirta Gangga juga terdapat sebuah patung Bima yang
Sedang bertarung dengan Naga Nemburnawa (lakon Dewa Ruci dalam perwayangan).
Dikisahkan sang Bima diperintahkan oleh Guru Dorna untuk mencari Tirta Prawita Adi. Di akhir kisah, setelah mengalahkan sang naga, Bima malah bertemu dengan Dewa Ruci dan mengetahui bahwa Tirta Prawita Adi sebenarnya tidak ada dan perintah Dorna tersebut hanya merupakan siasat licik untuk menyingkirkan Bima. Dan sejak saat itu danau tirta gangga dikenal serta dirawat sehingga menjadi objek wisata sampai sekarang.
Danau Tirta Gangga, terletak di Kecamatan Seputih Banyak. Dari ibukota Kabupaten Gunung Sugih, Danau Tirta Gangga dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit, jika menggunakan kendaraan pribadi. Sedangkan dari jalur lintas timur, danau ini terletak kurang lebih 5 km.

Sumber : Bapak Rahmat di Gunung Sugih

PESAN MORAL
Janganlah berbuat licik kepada orang lain, karena dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Serta mengakibatkan kehilangan kepercayaan dari orang lain dan jangan mudah percaya kepada ucapan orang lain, jika tidak ada bukti yang nyata.
komentar | | Read More...

BATU GOONG


Pada zaman dahulu Batu Goong yang terletak di bukit Kaduguling, adalah tempat pertemuan para biksu masa itu, terlihat dari bentuk batu di sekitar batu yang menyerupai gong seperti kursi-kursi kecil .
Pada masanya Kaduguling adalah sebuah desa kecil yang penduduknya mayoritas beragama Budha  dan Batu Goong ini dijadikan sebagai pusat peribadatan dan penyembahan. Tepat dibawah Kaduguling ada kolam mata air yang mengalir deras, yang dinamakan kolam suci, yang sekarang berganti nama menjadi Citaman untuk mereka mensucikan diri .
Suatu ketika ada 5 kesatria (yang penduduk sekitar tidak tahu nama-nama kesatria itu sendiri terkecuali Syech Dalem Tuha) mendatangi daerah Kaduguling ini, dengan tujuan untuk menyebarkan ajaranj Allah SWT dan Nabi besar Muhammad SAW . kedatangan mereka ternyata diketehui biksu lalu biksu mengundang  mereka untuk datang ke batu goong ini dan berbicara tentang ajaran yang syech dalem tuha bawa, semakin lama perbincangan mereka semakin panas para biksu membuka kitab mengungkap kebenaran menuju surga, syech dalem tuha bersama empat kesatria lain menimpali berdasarkan hadist dan Al-Quran lalu menggambarkan kesejajaran hidup didunia dan juga dihadapan sang Khalik .
Setelah sepuluh purnama syech dalem tuha bersama empat kesatria lain berada di kaduguling, ternyata usaha mereka tidak sia-sia pada akhirnya banyak penduduk sekitar yang memeluk agama islam, lalu meninggalkan kaduguling .
Pada masa kini batu goong unuk sebagian orang dipercayai sebagai tempat yang membawa keberkahan, tak jarang pada malam tertentu untuk sebagian orang itu datang ke batu goong dan melakukan ritual, mendatangi batu goong, makam syech dalem tuha, dan pemandian citaman untuk maksud maksed tertentu.
Citaman dan batu goong terletak di kampung Cigadung, Desa Sukasari, Kec. Pulosari, Kab. Pandeglang Provinsi Banten.

Pesan moral :
Batu tetaplah batu, apapun sejarahnya batu tidak akan mungkin bisa merubah nasib atau keberuntungan manusia tanpa ada campurtangan sang pencipta, tanpa ada usaha dan doa .
komentar | | Read More...

Asal Usul Nma Desa Tenjo

ilustrasi

    Pada zaman dahulu kala , ada pohon sangat tinggi dan besar  berada di sebuah desa. Pohon itu bisa terlihat jelas dari arah manapun, anda bisa melihat dari jarak dekat maupun jauh, pohon itu masih bisa terlihat. Karena sangat tingginya dan tidak ada pohon lain ataupun bangunan yang bisa menghalangi pohon tersebut maka pohon itu masih bisa terlihat dari kejauhan. Oleh sebab itulah orang-orang yang bertempat tinggal pertama di desa tersebut menyebutnya desa Tenjo , yang artinya dalam bahasa sunda yaitu lihat. Maka dari itu sampai sekarang nama Tenjo dipakai untuk nama desa tersebut , walaupun pohonnya sudah lama sekali tumbang. Dan tidak ada lagi pohon lain yang mampu hidup setinggi pohon tersebut.
komentar | | Read More...

Asal Muasal Rangkas Bitung

ilustrasi

Di rangkasbitung terdapat makam, yang disebut makam 5. Konon ceritanya makam tersebut ada karena dahulu ada 5 orang perampok yang dipukuli warga hingga mati kemudian ke 5 perampok itu dikuburkan dalam 1 lubang yang sama, sehingga tempat tersebut terkesan sangat menakutkan. Di tempat itu juga sering terjadi kecelakaan bahkan kecelakaan tersebut sampai menewaskan seseorang, kejadian mistis kerap kali dirasakan oleh warga yang sering melewati makam tersebut.
Karena penasaran dengan kebenaran cerita tersebut, saya mendatangi seorang warga yang sudah cukup lama tinggal dan mengenal daerah tersebut, namanya bapak sharki dari cijalur menurut penuturannya, dulu makam tersebut di sebut dengan 5 pal namun sekarang di sebut 5 km, kebanyakan orang mengenalnya dengan nama makam 5. Menurut beliau cerita tentang makam tersebut bahwa 1 makam berisi  5 orang adalah tidak benar, itu hanyalah kebohongan belaka. Di sana memang terdapat makam tapi bukan 1 makam berisikan 5 orang melainkan ada banyak makam bukan hanya 1 makam. Kebanyakan orang mengenalnya makam 5 karena  jarak dari polres daerah sekitar menuju makam tersebut adalah 5 km, sehingga disebut makam 5.
Di sekitar tempat tersebut memang sering terjadi kecelakaan bahkan hingga korbannya tewas. Ia membenarkan hal tersebut dan memang di tempat tersebut sering terjadi hal-hal yang mistis. Beliau menganjurkan apabila kita melewati tempat tersebut, dianjurkan untuk membunyikan klakson2 kali dengan maksud  untuk memberi isyarat kepada penghuni sekitar makam tersebut bahwa kita ingin lewat agar sesuatu yang tidak diinginkan tidak terjadi.

*Pesan moral: jangan mudah percaya dengan sesuatu yang belum pasti kebenarannya sebelum adanya bukti yang kuat
komentar | | Read More...

Asal Muasal Karang Bolong di Anyer Banten

Pada awalnya, pantai yang berada di ruas jalan utama Anyer-Carita ini dikenal dengan nama Pantai Karang Suraga. Nama ini diambil dari Suryadilaga, nama orang sakti mandraguna pada zaman dahulu yang bertapa di tempat ini hingga akhir hayatnya. Meski Suryadilaga telah lama meninggal, masyarakat sekitar pantai ini meyakini bahwa ia masih hidup dan bermukim di pantai tersebut.

Dalam perkembangan selanjutnya, perlahan-lahan nama Karang Suraga memudar dan berganti nama menjadi Karang Bolong. Hal ini disebabkan adanya sebuah batu karang besar yang di tengahnya berlubang (bolong) dan membentuk sebuah lengkungan. Salah satu ujung karangnya berada di tepi pantai, sementara ujung karang yang satu lagi menghadap ke laut lepas.

Nama Pantai Karang Bolong diambil dari karang yang besar dan berlubang ditengah nya atau bolong.. Karang Bolong merupakan karang besar yang berlubang di tengahnya, menurut perkiraan para ahli, diperkirakan akibat letusan gunung Krakatau pada tahun 1883.

Pantai Karang Bolong berbentuk lengkung yang sangat lebar dan menghadap langsung ke laut lepas. Oleh pengelola pantai ini, beberapa bagian karang diberi anak tangga agar pengunjung bisa menaiki karangnya hingga bagian atas. Dari tempat ketinggian di atas karang itulah para pengunjung bisa menikmati pemandangan laut.

•    Terjemahan dengan menggunakan bahasa daerah

Sejarah Pantai Karang Bolong

Pada mulane, pantai sing wenten ning ruas dalan utama Anyer-Carita niki dikenal sareng Pantai Suraga. Aran niki di sambut sing Suryadilaga, aran wong sakti mandraguna pada jaman bengen sing tetapa ning tempat niki sampe akhir hayate.
Senajan Suryadilaga sampun lambat padem, masyarakat sekitar pantai niki ngeyakini bahwa Suryadilaga masih wenten lan bermukim ning pantai niki.

Sing perkembangan selanjute, alon-alon aran Karang Suraga pudar lan ganti aran jadi Karang Bolong. Hal niki disebabaken sareng sebuah batu karang gede sing wenten tengahe berlubang (bolong) lan ngebentuk sebuah lengkungan. Salah siji ujung karange wenten ning tepi pantai, sementara ujung karange sing salah sijine lagi ngadep ning laut luas.

Aran pantai karang bolong diisung sareng karang gede lan berlubang ning tengahe atawa bolong. Karang bolong niku karang gede sing wenten lubange ning tengahe, jereh perkiraan wong ahli, sing diperkiraken akibat letusan gunung krakatau pada taun 1883.

Pantai karang bolong bentuke lengkung sing sangat lebar lan ngehadap langsung ning laut luas. Sing pengelola pantai niki, wenten bagian karang diisungi anak tangga gunah pengunjung bisa manek karang sampe ning duhur.
Sing tempat keduhuran, ning duhur karang niku para pengunjung bisa ngenikmati pemandangan laut.


Pesan Moral:
•    Dari cerita daerah diatas disimpulkan nilai pendidikan yaitu: kita bisa mengetahui sejarah lokasi daerah tersebut yang mempunyai nilai mistis.
•    Sing cerita ning daerah niku, dapat disimpulaken nilai pendidikane yaiku, kita sedanten bisa weruh sejarah lokasi daerah tersebut sing ngederebeni niali mistis atawa samun.

Sumber:
Samsuddin

komentar | | Read More...

ASAL USUL TASIKARDI

ilustrasi

Tasikardi adalah sebuah danau yang berada di kabupaten serang tepatnya di kecamatan Kramat watu dimana pada zaman dahulu tempat ini dijadikan sebagai tempat rekreasi sultan-sultan dan keluarganya, tempat pemandian para putri kerajaan, dan tempat ini juga berfungsi sebagai penampungan air. Sebelum air di tampung  di tempat ini air harus disaring terlebih dahulu. Ada 3 bangunan yang berfungsi untuk menyaring air dimana bangunan tersebut tidak lain adalah pengindelan abang ( penyarinngan merah ), pengindelan putih ( penyaringan putih), dan yang terakhir pengindelan emas ( penyaringan emas). Ketiga bangunan tersebut berada dalam satu garis lurus, menghubungkan pemandian tasikardi dengan  pemandian yang ada dalam istana surosowan. Data ketinggian untuk ketiga bangunan tersebut menunjukkan adanya beda ketinggian yang semakin menurun dimulai dari Tasikardi dengan ketinggian 4 meter, Pengindelan Merah 3 meter, Pengindelan Putih 2 meter, Pengindelan Emas 1 meter yang kemudian berakhir pada pemandian istana surosowan dengan ketinggian < 1 meter. Tentunya perbedaan ketinggian ini akan sangat memudahkan sekali dalam mengalirkan air.
    Bentuk bangunan pengindelan merah hanya berupa sebuah bangunan persegi sederhana.  Pada bagian atapnya menyerupai bagian bentuk atap yang umum terdapat pada bangunan perumahan. Bangunan Pengindelan Putih terletak ditengah sawah penduduk. Bentuk bagian atapnya berupa lengkungan setengah lingkaran. Bangunan Pengindelan Emas sudah tinggal separuhnya saja. Bagian atap sudah benar-benar hilang dan tidak diketahui bagaimana bentuk aslinya. 
    "Kondisi banten lama yang terletak di pinggir pantai, memiliki lingkungan tanah yang banyak menyerap air laut. Tidak ditatanya perkotaan dengan baik, mengakibatkan kota menjadi becek dan sungaipun selalu kotor. Kondisi perkotaan semacam itu bukan merupakan pemukiman yang sehat. Sehingga berjangkitnya penyakit, selalu bersifat epidemis menjadi wabah yang menular. Korban-korban yang meninggal, tidak hanya menyerang rakyat biasa melainkan juga diderita oleh orang-orang Belanda yang bermukim di Benteng Speelwijk. Karena bertambah ramainya arus lalu lintas, berjangkit pula penyakit yang dibawa oleh kapal-kapal asing yang telah melintasi samudera berbulan-bulan lamanya. Pada tahun-tahun selanjutnya, dengan lingkungan kota pelabuhan yang pengap dikelilingi tembok, wabah penyakit bukan hanya merusakkan daya tahan tubuh penduduk  tetapi juga melemahkan mental mereka.
    Pembangunan air melalui pipa-pipa  yang dialirkan dari danau buatan Tasik Ardi, merupakan satu cara untuk mengatasi lingkungan pemukiman Kota Banten Lama yang 'kumuh'. Inilah latar belakang atau asal usul mengapa danau Tasikardi dibuat.
Pesan Moral
Pesan moral dilihat dari sisi Budaya peninggalan-peninggalan zaman dahulu yang masih ada sebaiknya dijaga agar tetap utuh dan terjaga kelestariannya sehingga anak cucu kita dapat menikmati keindahannya. Selain itu dari cerita ini memberikan pesan kepada kita untuk  membiasakan hidup bersih agar tidak  tidak mudah terserang penyakit.
komentar | | Read More...

Asal Mula Situ Rawa Arum

ilustrasi
Kota Cilegon terletak di propinsi Banten. Kata Cilegon berasal dari kata “Ci” atau “Cai” yang artinya air dan kata “Legon” yang artinya lengkungan. Cilegon bisa diartikan sebagai kubangan air atau rawa-rawa. Hal ini sesuai dengan banyaknya nama tempat di Cilegon yang menggunakan nama Kubang dan Rawa seperti Kubang Sepat, Kubang Menyawak, Kubang Lesung, Rawa Arum dan lain-lain.
Desa Rawa Arum terletak di Kecamatan Grogol. Nama desa tersebut berasal dari sebuah nama situ, yaitu Situ Rawa Arum. Asal mula terbentuknya Situ Rawa Arum berawal saat meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883. Situ Rawa Arum terbentuk akibat dari proses alam. Letusan Gunung Krakatau yang sangat dahsyat mengakibatkan tsunami yang begitu besar. Tsunami tersebut menenggelamkan beberapa wilayah yang sekarang lebih dikenal dengan nama Selat Sunda dan menenggelamkan sebuah desa. Ada sebuah desa yang dipimpin oleh seorang Ki Ageng yaitu Ki Ageng Ireng yang masih berkerabat dekat dengan Sultan Palembang.
Singkat cerita, setelah sekian lama banjir yang menenggelamkan pesisir Selat Sunda telah surut, namun sebuah desa masih digenangi air. Akhirnya desa tersebut menjadi sebuah rawa yang banyak ditumbuhi bunga teratai yang berbunga putih dan menebarkan bau yang sangat harum. Karena rawa tersebut mengeluarkan bau yang begitu harum, maka dari itu Ki Ageng Ireng menyebutnya dengan nama Telaga Arum yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Rawa Arum.
komentar | | Read More...

Awal Mula Desa Panggarangan

   
ilustrasi
Pada zaman dahulu, kampung panggarangan bukanlah sebuah desa. Melainkan hutan belantara yang tak berpenghuni manusia. Entah tahun berapa ada sepasang suami istri yang sedang bermusafir, mencari tempat untuk dijadikannya naungan sebagai tempat tinggal mereka. Sepencarian yang cukup lama akhirnya mereka menemukan tempat yang memang dirasa cocok untuk dijadikan tempat tingga, yakni desa yang kini diberi nama desa panggarangan. Sepasang suami istri inilah yang menjadi awal mula sejarah desa panggarangan.
    Sudah beberapa lama suami istri itu hidup di tengah hutan, namun mereka belum mempunyai keturunan yang dapat meramaikan hangatnya suasana keluarga. Beberapa cara sudah mereka tempuh. Tak ada ramuan penyubur rahim yang tak pernah diminum oleh sang istri, tetap saja hasilnya nihil.
    Dalam penantian mereka untuk memomong seorang bayi, sepasang suami istri itu adalah seorang seniman sekaligus pengrajin. Sang istri yang memiliki suara merdu tak pernah absen dalam membawakan sebuah tembang sunda yang diiringi oleh gendang kulit kaming buatan suaminya. Kadang kala sang suami begitu rajin membuat wayang golek. Sehingga gubuk sederhana mereka terlihat seperti pameran wayang golek saja. Kecintaan mereka terhadap seni begitu tinggi. Dan terkadang lupa akan keingginan besar mereka yaitu mempunyai anak.
    Pada suatu hari, sang istri yang sedang menyediakan santapan makan malam, terkoyong-koyong merasa pusing dan mual sehingga dia hamper tersungkur ke dalam tunggku api yang sedang menyala panas. Untungnya saja ada sang suami yang menahan tubuh istrinya.
“Kenapa neng.?” Tanya sang suami yang terlalu khawatir istri tercintanya terluka.
“Tidak kang hanya pusing saja.” Jawab sang istri sembari bangun yang meneruskan pekerjaannya. Karena sang istri terlihat membaik akhirnya sang suami kembali meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.
    Peristiwa pusing dan mual sang istri terjadi begitu sering dalam satu bulan ini. Namun suami istri itu tak menghiraukannya. Karena mereka pikir itu hanya penyakit masuk angin yang biasa dialami oleh sang istri. Tak lama kemudian sang istri merasakan ada yang tumbuh dalam rahimnya, yang ternyata itu adalah seorang calon bayi yang allah karuniakan untuknya saat itu. Senagnya tak terkira sang suami istri itu. Yang selama ini diminta akhirnya terkabulkan juga.
    Kehamilan sang istri sangatlah sehat. Tidak banyak kendala yang dialami sang istri dalam menjalani proses kehamilannya itu. Bahkan setelah hamil sang istri malah semakin senang  dengan bernyani ataupun memainkan alat music. Sembilan bualn terasa begitu cepat akhirnya sang istri melahirkan bayi kembar. Bayi-bayi itu kini menghangatkan keluarganya. Selang satu tahun dari kehamilanya sang istripun mengandung bayi kembar pula. Seperti halnya tahun kedua. Pada tahun ketiga pun sang istri mengandung bayi kembar lagi. Karunia yang diberikan allah sangat lauar biasa pada kedua suami istri itu. Pada akhirnya keluarga mereka mempunyai enam oarang anak.
    Jiwa seni yang mendarah daging pada orangtuanya menjadi sebuah hereditas untuk anaknya. Dengan enam orang putri-putrinya, mereka membentuk suatu latihan grup music tradisional yaitu degung. Kemahiran dalam memainkan alat music maupun bernyanyi ke enam anak suami istri itu sudah sangat terkenal kemana-mana. Sehingga mereka sering dipanggil untuk menghibur tamu undangan dalam acara pesta pernikahan maupun sunatan di perkampung lain, yang terkadang sangat jauh dari tempat tinggalnya.
    Seiring berjalanya waktu. Keterkenalan anak-anak  suami istri itu membuat tempat yang mereka tempati mulai dijamah juga oleh penghuni lainya. Awalnya hanya inggin belajar seni  seperti yang dilakukan ke enam anak-anak mereka. Namun kemudian penduduk lain mulai menetap tinggal dalam hutan itu. Dan sampai jumlah kepala keluarga sudah mencukupi untuk daerah itu di sebut suatu kampung. Warga setempat yang kala itu menghuni desa ini mengusung nama panggarangan dari asal kata pangarang yang artinya pengarang. Kala itu masyarakat setempat melihat kerjianan dalam bidang seni yang dimiliki oleh sepasang suami istri itulah sebagai pemicu utama munculnya nama panggarangan.
    Bukan hanya kerluarga itu saja yang menjadi seniman-seniwati yang bisa memaikan seni. Namun masyarakat sekitar pun diajak untuk bergabung menikmati indahnya peranan seniman dalam sebuah pertunjukan. Maka dari itulah nama panggarangan diusung sebagai nama kampung yang mereka tempati.
    Walau tidak banyak para seniman seperti yang hidup pada zaman dahulu. Sekarang panggaranganpun mempunyai beberapa kesenian yang patut  ditonjolkan dalam wadah kreatifitasnya. Bukan itu banyak masyarakat pula yang berprestasi dibidang seni. Seperti contoh grup degung guru yang selalu mengisi acara pernikahan. Jaipong yang mulai mencuat. Dan  wayang golek yang hadir memeriahkan acara kesenian.Itulah sebabnya panggarangan dianggap kampung seni, yaitu kampung pengarang.

Imformator:
1.    Pridaningsih
2.    Pa ncat
3.    Dewi
komentar | | Read More...

Sejarah Bendungan Lama dan Asal usul Nama Pamarayan

Pada zaman dahulu tepatnya pada tahun 1048 didaerah ini dipimpin oleh  seorang raja yang bernama  Raja Wel Wina, sebelumnya di daerah ini telah di bangun jaringan-jaringan irigasi kecil sederhana dan Irigasi tertua adalah yang di bangun oleh Sultan Ageng Tirtayasa pada sekitar abad ke 17 yang di kenal sebagai kanal sultan. Namun ketika Belanda menjajah bagian barat Indonesia tepatnya didaerah Banten sampai ke wilayah Pamarayan, awalnya colonial  Belanda hanya ingin mengambil rempah-rempah tetapi lama-kelamaan orang Belanda berinisiatif membuat jembatan untuk pengairan di lahan pertanian dan untuk mempermudah mobilitas mereka dalam mengambil rempah-rempah didaerah tersebut. Jembatan tersebut dibangun tahun 1901 faktanya tertulis pada Almanak yang tertera pada salah satu pintu air. Jembatan ini biasa disebut dengan nama Jembatan Putih atau Bendung Pamarayan Lama.
Bendung Pamarayan Lama mempunyai beberapa bagian bangunan antara lain saluran irigasi sepanjang ratusan meter yang dilengkapi dengan 10 pintu air berukuran raksasa. Diameter setiap pintu hampir 10 meter lebih yang merupakan bangunan utama. Selain itu Bendung Pamarayan Lama juga memiliki dua menara yang terletak di sisi kanan dan kiri bendungan.
Untuk menggerakkan setiap pintu air yang dibuat dari baja tersebut, pemerintah Belanda menggunakan rantai mirip rantai motor yang berukuran besar. Sepuluh rantai dikaitkan pada roda gigi elektrik yang terletak di bagian atas bendungan. Roda-roda gigi yang berfungsi untuk menggerakkan pintu air berjumlah puluhan di dalam 30 bok  tipe 1,2 dan 3 (berukuran sedang) dan  roda gigi tipe 4 dan 5 (berukuran besar). Setidaknya ada 20 as kopel berdiameter sekitar 7 centimeter dan panjang 1,5 meter sebagai penghubung roda gigi di setiap pintu air.
Pada saat itu yang mengerjakan jembatan tersebut adalah orang-orang pribumi dan para pekerja dari daerah jawa  yang dipekerjakan oleh orang belanda. Proyek bendungan  ini selesai dikerjakan pada tahun 1914 dan air mulai disalurkan pada tahun 1918, disamping bendungan ini terdapat bangunan  yang di gunakan oleh kolonial belanda untuk MEMBAYAR upah para pekerja atau biasa di sebut dengan tempat ” PAMAYARAN ”  dalam bahasa Sunda karena  bendungan ini di bangun di daerah yang kebanyakan penduduknya menggunakan bahasa  sunda,
 Warga pribumi hanya dibayar atau mendapat imbalan atas pekerjaannya hanya dengan dibayar dengan uang logam Wel Wina dengan cara pakai takeran tidak diperhitungkan dengan rinci, entah takeran uang ataupun takeran jagung. Pokoknya ukuran hanya 1 (satu)  takeran. Mulai pada saat itu munculah keributan antara warga pribumi yang meributkan imbalan yang diberikan oleh Belanda. Semakin lama semakin berlanjut keributan tersebut, dan pada akhirnya daerah tersebut menjadi sebutan PAMAYARAN para pekerja jembatan pada masa penjajahan colonial Belanda. .Dengan semangat juang dan kesatuan dari warga Indonesia akhirnya Bangsa Indonesia berhasil merebut  KE-MERDEKAAN¬-NYA dari tangan penjajahan Belanda.
Kini dengan perbendaharaan kata yang semakin banyak dan bahasa yang semakin  berkembang sebutan PAMAYARAN  berubah menjadi PAMARAYAN yang kini menjadi nama sebuah kecamatan di Kabupaten Serang Provinsi BANTEN.
komentar (1) | | Read More...

Awal mula lahirnya nama dari curug abu

ilustrasi
Curug abu tersebut diambil dari nama salah satu orang yang ada didesa tempat saya tinggal. Dulu sebelum curug itu dinamai curug abu orang-orang yang ada didaerah saya khususnya tida banyak yang tahu mengenai keberadaan curug tersebut, karena terselimuti oleh hutan belantara dan untuk mencapainya saja butuh perjuangan yang sangat ekstra pada jaman dahulu, namun sekarang pepohonannya sudah mulai sedikit karena banyak orang yang memanfaatkannya untuk dijual. Konon ceritanya pada jaman dahulu curug itu dihuni oleh ular dan kalajengking yang tidak wajar karena ukurannya yang sangat besar berbeda dengan ular dan kalajengking pada umumnya. Bahkan pada jaman dulu tidak banyak orang yang berani melewati curug tersebut hanya orang-orang tertentu saja dan bernyali besar yang berani melewatinya, sebenarnya curug tersebut tidak terlalau dalam damun disekeliling curug tersebut diselimuti oleh bebatuan yang besar dan licin serta gelap karena banyaknya pohon-pohon besar yang membentuk kanopi sehingga menyulitkan matahari untuk menembusnya, Air dicurug tersebut sangat jernih sekali dan terdapat banyak ikan. Namun sekarang air curug tersebut tidak sejernih dulu karena lumayan sering dijumpai oleh orang-orang yang ada disekitar desa tempat keberadaan curug itu hanya untuk sekedar memancing ikan. Saya juga pernah memancing disitu sekitar 6 tahun yang lalu

Curug itu dulunya tidak memiliki nama karena tidak begitu dikenal, dikenalnya curug abu tersebut  karena ada oarng bernama abu yang memang orangnya dikenal karena nyalinya lumayan besar dan dia masuk ke curug tersebut bertujuan untuk menebang pohon yang berada tepat dipinggir curug tersebut tepatnya pas waktu mulai memasuki dzuhur. Sebelumnya sudah diberikan peringatan oleh teman-temannya agar berhenti sejenak karena sudah dzhur namun dia tetap saja memaksakan untuk memotong kayu tersebut, setelah kayu tersebut terpotong kayu itu jatuh dan ujungnya mengenai dada orang yang bernama abu tersebut posisi abu pada saat itu setelah terdorong oleh kayu yang dia potong olehnya dia terhenti di bebatuan dan ironisnya badannya terjepit disela-sela kayu dan bebatuan, sampai proses evakuasipun pada saat itu sangatlah sulit dan berjalan sangat alot karena tidak mudah untuk menggeserkan kayu yang lumayan besar yang menjepit tuhuh abu, sehingga nyawa abu pun tidak terselamatkan dari situlah curug itu diberi nama curug abu
komentar | | Read More...

Asal-usul Nama Gunung Curi

ilustrasi
    Menurut cerita orang tua dahulu, di daerah Jawa bagian yang paling barat yaitu di sekitar Ujung Kulon tercerita terdapat satu kerajaan yang mahsyur ke mana-mana. Karena kerajaan tersebut memiliki raja yang tidak sembarangan. Bisa dibilang ia adalah raja yang lumayan bijaksana. Wilayah kerajaannya lumayan subur makmur dengan curah hujan yang lumayan tinggi tiap tahunnya.
    Raja memiliki istri yang cantik jelita, tidak ada yang bisa menandinginya di kerajaan tersebut. Karena terlau cantik, kecantikan istri raja tersebut ke penjuru kerajaaan terdengar sampai ke kerajaan yang lainnya. Siapa yang melihat istri raja tersebut pasti akan ada rasa cinta. Hanya yang tidak memiliki hati dan orang buta saja yang tidak punya rasa cinta terhadap istri raja tersebut.
    Kecantikan istri raja tersebut sampai ketelinga raja di sebelah timur didaerah pegunungan yakni kerajaan yang letaknya di Gunung Kaso. Sang Raja Gunung Kaso ingin tahu terhadap istri raja tersebut yang terkenal akan kecantikannya. Raja Gunung Kaso berencana untuk ke daerah barat dan melihat istri raja tersebut.
    Sesampainya di daerah kerajaan Ujung Kulon. Raja Gunung Kaso tersebut langsung memiliki rasa cinta yang luar biasa besarnya. Dirinya menyuruh para prajutitnya supaya membawa istri Raja Ujung Kulon ke kerajaan Gunung Kaso. Tanpa sepengetahuan raja tersebut, istrinya tersebut dibawa paksa ke kerajaan Gunung Kaso.
    Raja Ujung Kulon mencari istrinya di istana akan tetapi tidak bertemu saja. Dirinya bertanya kepada para bawahannya akan tetapi tidak ada yang mengetahuinya. Selagi binguing, dirinya teringat akan waktun kedatangan Raja Gunung Kaso berkunjung ke kerajaannya. Tetapi dirinya masih belum yakin bahwa Raja Gunung Kaso berani melakukan hal begitu. Selagi bingung tersebut, datanglah seorang rakyatnya melapor bahwa waktu tadi siang saat dirinya lagi dikebun melihat bahwa istri raja tersebut dibawa paksa oleh pasukan Raja Gunung Kaso. Setelah mendengar laporan tersebut, raja menjadi sangat marah. Dirinya langsung mengomando prajuritnya untuk menjemput istrinya yang diculik oleh Raja Gunung Kaso.
    Bersiaplah dari situ pasukan Raja Ujung Kulon berangkat ke kerajaan Gunung Kaso. Menurut riwayat orang tua dahulu. Karena betapa besarnya Raja Ujung Kulon tersebut sehingga ekornya pun diangkat oleh empat orang. Berarti raja tersebut bukanlah sembarangan rajadan kerajaannya pun bukanlah sembarangan kerajaan.
    Mendengar laporan bahwa Raja Ujung Kulon sedang berada dalam perjalanan untuk mengambil istrinya kembali yang telah diculik. Raja Gunung Kaso tidak memiliki rasa takut sedikitpun terhadap Raja Ujung Kulon.
    Dirinya menyuruh kepada Lengsernya supaya menyambut kedatangan Raja Ujung Kulon tersebut. Dengar kesaktiannya tersebut, Lengser membersihkan tempat yang akan disiapkan untuk menyambut kedatangan Raja Ujung kulon. Batu-batu yang menghalangi tempat tersebut ditendang-tendang oleh Lengser. Menurut cerita, batu yang ditendang tersebut ada yang mencapai sebesar rumah. Batu-batu tersebut menggelinding ke sungai Cikahuripan yang sekarang namanya menjadi sungai Cimadur. Oleh karena itu mengapa sungai Cimadur pas Gunung Kaso banyak terdapat karangnya.
    Raja melihat kejadian dimana dimana Lengser Raja Gunung Kaso tersebut sedang membersihkan tempat yang bakal disiapkan untuk kedatangan Raja Ujung Kulon. Melihat Lengsernya menendang-nendang batu sebesar rumah. Dirinya langsung ciut niat.
    Bukan sembarangan itu raja. Melihat Lengsernya saja sudah sebegitu kekuatannya, apalagi mungkin kekuatan rajanya. Semenjak melihat kekuatan Lengser Raja Gunung Kaso tersebut, Raja Ujung Kulon langsung kembali lagi tidak jadi menjemput istrinya tersebut. Padahal dalam riwayat ekor Raja Ujung Kulon yang di angkat oleh berempat meski takut melihat Lengsernya Raja Gunung Kaso menendang batu. Apalagi mungkin wujud dan kekuatan Raja Gunung Kaso Tersebut.
    Semenjak kejadian tersebut. Gunung Kaso berubah namanya menjadi Gunung Curi. Karena digunung tersebut pernah terjadi suatu incident penculikan Ratu sebuah kerajaan di barat pulau jawa. Kerajaan tersebut bukanlah kerajaan sembarangan. Bukan kerajaan manusia biasa. Allahualam bishoaf.
    Lokasi gunung ini berada di daerah pegunungan yang banyak terdapat karang. Letaknya di jalan lintas Bayah-Cikotok, terbentang antara kampung Bungkeureuk sampai kekampung Cintawana. Sedangkan Gunung Curi ini diapit oleh dua sungai yaitu sungai Cidikit dan sungai Cimadur (Cikahuripan). Akan tetapi Gunung Curi lebih dekat ke Cimadur. Disekitar Cimadur terdapat banyak kampung lainnya seperti Sukajaya, Mancak dan Taringgul.
Pesan moral : Jangan langsung putus asa atau menyerah, apalagi berkorban untuk seseorang yang kita cintai.
Sumber Cerita : Nenek dan mamah aku tercinta.
komentar | | Read More...

Asal Usul Nama Pandeglang

Di zaman dahulu kala hiduplah seorang putri yang bernama Putri Arum adalah seorang putri yang cantik jelita selain itu dia juga memiliki budi pekerti yang baik. Kecantikan putri Arum telah memikat hati pangeran Cunihin. Namun sayangnya pangeran Cunihin adalah seorang pangeran yang sombong. Putri Arum tidak menyukai pangeran Cunihin. Walaupun begitu putri Arum tidak bisa menolak pinangan pangeran, dia takut jika menolak sang pangeran akan marah dan merusak segalanya. Putri Arum menjadi amat sedih dan bingung tentang apa yang harus dilakukannya.
Pada suatu hari di tengah sebidang kebun manggis, seorang putri yang cantik jelita duduk termenung. Sorot matanya kosong, bibirnya terkatup rapat menandakan dia sedang bermuram durja. Tidak jauh dari tempat sang Putri duduk, melintaslah seorang lelaki paruh baya dengan karung di pundaknya. Lelaki itu tertegun sesaat manakala melihat sang Putri. Wajah lelaki itu tampak penuh kekhawatiran. Arum berjumpa dengan ki Pande. Kemudian putri Arum menceritakan kegelisahan hatinya pada Ki Pande. Ki Pande adalah seorang pembuat gelang yang hidup di kampung tersebut. Bersama ki Pande, putri Arum mengatur rencana agar dapat membatalkan pertunangannya dengan pangeran Cunihin. Setelah beberapa hari pangeran Cunihin datang menemui putri Arum dan memintanya untuk menerima pinangannya. Putri Arum mengajukan syarat yaitu pangeran Cunihin harus dapat melubangi batu yang besar. Putri Arum ingin melihat keindahan laut melalui lubang batu tersebut. Mendengar permintaan itu pangeran Cunihin tertawa dan dengan sombongnya dia menyanggupi syarat yang diajukan putri Arum.
Waktu yang diberikan putri Arum untuk membuat lubang batu adalah tiga hari. Namun sebelum waktunya tiba ternyata pangeran Cunihin sudah selesai membuat lubang yang sangat besar di sebuah batu. Melihat hal ini putri Arum menjadi gentar dan takut jika akhirnya nanti harus menerima pertunangan tersebut. Setelah lubang batu selesai, pangeran Cunihin mendatangi putri Arum dan menagih janjinya. Putri Arum berpura-pura senang dan mendatangi lubang batu itu, di hadapan pangeran Cunihin, putri Arum berbohong. Putri Arum mengatakan bahwa dia tidak dapat melihat lubang batu yang telah dibuat pangeran Cunihin. Pangerang Cunihin menjadi bingung dan mencoba untuk masuk ke dalam lubang batu tersebut.
Saat itulah keajaiban terjadi, dengan perlahan kekuatan pangeran Cunihin melemah, dia kemudian berubah menjadi seorang lelaki tua dan kekuatannya menghilang. Putri Arum menjadi terkejut dan secara tidak sadar dia mendekati ki Pande. Berubahnya pangeran Cunihin menjadi tua ternyata berbalik kepada ki Pande. Sebelumnya ki Pande adalah seorang lelaki tua namun kemudian berubah menjadi pangeran yang gagah dan tampan. Putri Arum yang melihat hal ini menjadi terkejut, kemudian ki Pande menjelaskan apa yang terjadi. Sebenarnya pangeran Cunihin dan ki Pande adalah saudara seperguruan, namun pangeran Cunihin adalah orang yang sombong. Pangeran Cunihin juga telah mencuri ilmu kesaktian ki Pande dan merubahnya menjadi lelaki tua. Ki Pande dapat berubah menjadi semula jika pangeran Cunihin masuk ke dalam lubang batu yang di lapisi gelang buatan ki Pande. Kini ki Pande telah selamat dan dia berterima kasih kepada putri Arum yang telah membantunya. Akhirnya ki Pande di panggil dengan sebutan Pande Gelang dan menikah dengan Putri Arum. Mereka hidup damai dan tinggal di daerah Banten.
Tempat mengambil batu keramat tersebut kemudian dikenal dengan kampung Kramatwatu, dan batu besar berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan tempat sang Putri melaksanakan wangsit di bukit manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Manggis dalam bahasa Sunda berarti Manggu dan pasir berarti bukit.

komentar | | Read More...

KAWAH NAGA (AIR PANAS)

Ilustrasi
Pada hari senin, 27 agustus 1883 pukul 10.20 meledaklah gunung Krakatau. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau jawa dan Sulawesi  serta srilangka.  Sembilan desa musnah. Dan di kabupaten serang khususnya di daerah pantai anyer bermunculan kawah-kawah kecil salah satunya terdapat di desa sindang karya, kampung karya.  Kawah tersebut di percaya oleh masyarakat setempat mengandung belerang yang dapat menyembuhkan segala penyakit salah satunya penyakit kulit. Mengapa masyarakat tersebut mempercayai kawah tersebut bisa menyembuhkan segala penyakit khususnya penyakit kulit, karena di suatu ketika ada seorang petani  yang mempunyai penyakit kulit, setiap hari dia membersihkan tubuhnya dari lumpur di kawah tersebut  sehingga penyakit yang dideritanya sembuh dikarena kan dia selalu membersihkan penyakitnya dengan air belerang yang ada di dekat sawahnya tersebut. Semenjak peristiwa itu masyarakat setempat mempercayai bahwa kawah tersebut bisa menyembuhkan penyakit kulit.
Pada suatu ketika ada seorang sesepuh yang mengatakan bahwa di kawah tersebut ada yang menjaga yaitu seorang kiayi yang selalu duduk di tempat solat yaitu kayu panjang dan ada makhluk ghaib yang menunggu kawah tersebut. Karena pada zaman dulu masyarakat masih primitive dan mempercayai mitos-mitos yang ada di desa tersebut jadi masyarakat percaya terhadap sesepuh tersebut. Banyak sekali hal-hal yang terjadi semenjak kawah itu ada, ada seorang ibu-ibu yang mempunyai penyakit kulit dan sudah berobat kemana-mana tapi tetap saja tidak sembuh. Akan tetapi pada suatu malam ibu tersebut di beri mimpi yang menunjukan bahwa dia harus mandi dan berendam di kawah tersebut dan tidak lama setelah itu penyakit yang dia derita perlahan-lahan memudar. Ibu tersebut semakin rajin mandi dan berendam di kawah tersebut dan akhirnya sembuh.
Setelah kejadian tersebut banyak orang yang berkunjung ke kawah tersebut, bahkan banyak turis-turis yang berkunjung ke kawah tersebut.  Karena banyak orang yang berkunjung ke  kawah tersebut semakin kotor dan banyak sampah karena tamu yang berkunjung kesana tidak bias memelihara lingkungan. Dan akhirnya sekarang kawah tersebut menjadi tidak terjaga dan jarang pengunjung mau kesana, akan tetapi masyarakat di desa karya tersebut masih ada yang mengunjungi kawah tersebut dan masih banyak yang mempercayai mitos-mitos pada zaman dulu.
Pesan Moralnya adalah :
Masyarakat jangan terlalu pecaya terhadap mitos-mitos yang ada di desa tersebut, karena semua yang ada dan dihilangkan kembali adalah kehendak allah. Mungkin saja kawah tersebut bisa menyembuhkan penyakit kulit walaupun dengan waktu yang lumayan lama, akan tetapi kita jangan sampai lupa kalau itu pun allah menghendaki.   karena penyakit apapun dan dimanapun ia berobat kalau allah belum  menghendaki untuk sembuh maka tidak akan sembuh bahkan sebaliknya.
komentar | | Read More...

Asal-usul Nama Anyar

Beberapa abad yang lalu Anyar bukanlah nama dari sebuah kota wisata di Barat Provinsi Serang, konon  dulu Anyar namanya ialah kota Sudi Mampir. Banyak beberapa pendapat yang menyatakan setuju bahwa Anyar adalah dulunya bagian dari kerajaan Banten.
sejak tahun 1667 Sudi Mampir berdiri, hasil dari perluasan kerajaan banten yang Berawal sekitar tahun 1526 Sudi Mampir yang Artinya ialah Rela untuk Mampir.
Pada tahun 1883 terjadi bencana besar ditanah Banten khususnya Sudi Mampir. Bencana Meletusnya gunung krakatau yang mengguncang seluruh dunia, mulai dari turunnya suhu bumi dan dentuman yang memecahkan telinga terdengar sampai Afrika. Memusnahkan seluruh kehidupan di Sudi Mampir hanya menyisakan sedikit kehidupan, Sudi Mampir tinggal Sejarah.
Setelah kejadian tersebut baermunculan para pendatang dari daerah sekitar Banten seperti Pandeglang, Serang, Ciomas, Mancak, dan daerah luar Jawa (Padang, Lampung, Batak, dan Riau).
Terbentuklah sebuah kota baru, dan diberi nama Anyar yang memiliki Arti “Baru”. Maklum banyak ulama dari daerah Sunda yang datang ke Daerah Anyar.
Ada seorang Ulama yang dikenal sangat baik hati dan taat ibadahnya yaitu Jasim, dikisahkan suatu hari beliau pergi melaut sesampainya dilaut langsung menurunkan jangkar dan mulai memangcing, tidak lupa beliau tidak pernah meninggalkan solatnya walaupun di atas kapal. Matahari terbenam ankat jangkar dan pulang untuk memimpin jamaah untuk melaksanakan solat magrib, beliau tidak segan membantu masyarakat Anyar yang kesusahan pernah suatu ketika tetangganya belum makan dan tidak ada apa-apa untuk dimakan, anaknya menangis karna lapar. Saat Jasim mendengar tangisan itu dia bertanya kepada ibunya, Hai saudaraku kenapa anakmu terus menangis ? “dia lapar belum makan dari kemarin,” sontak terkejut Jasim mendengar itu” tidak lama Jasim memberikan hasil tangkapan ikannya. “Memberi tidak akan membuat seseorang Jatuh Miskin” itulah yang Jasim tanamkan dalam dirinya, dia slalu membantu tetangganya dengan yang dia miliki. Lama kelamaan tetangganya Meniru sifat teladan Jasim, Anyar menjadi kota Murah untuk hidup. 10 tahun kemudian Jasim pergi melaksanakan ibadah haji, sepulang dari ibadah haji, Jasim bersama Ulama lainnya mendirikan Masjid Anyar. Dan dikenanglah para Ulama oleh masyarakat dengan membuat jalanan dengan nama para Ulama, seperti Jalan Kisepuh dan Jalan Haji Jasim. Lama kelamaan semakin banyak para pendatang dari berbagai daerah, dan mereka menyebutnya ANYAR.

* Pesan Moral    :
- Slalu berbuat kebaikan kepada siapapun.
- Memberi tidak akan pernah menjadi miskin.
- Taat kepada sang pencipta sumber ketenangan hati.
- Tepat waktu adalah kunci kesuksesan

* Referensi
- Ibu Johariyah warga Anyer
komentar | | Read More...

ASAL USUL CURUG KANTEH

                                     
Curug Kanteh, Lebak Banten

   Alkisah Pada jaman dahulu kala ada sebuah desa yang sangat makmur kehidupannya dipenuhi dengan harta melimpah, kekayaan yang tiada tertandingi laksanan raja- raja yang memiliki singgah sana dimana-mana, rumah-rumah yang dipenuhi atap-atap rumbia yang mengkilap terkesan seperti dilapisi emas, penduduk yang sopan, jujur, ramah tamah serta saling membantu satu sama lain tak heran apabila penduduk nya tak merasa kekurangan dengan apa yanmg dimiliki oleh mereka karena sesuatu yang mereka miliki.
    Di desa tersebut hiduplah seorang kakek tua dengan paras yang sangat di segani oleh penduduk karena salah satu sesepuh yang selain memiliki harta yang banyak ia pun memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi pula beda dengan penduduk yang lainnya sehingga apabila penduduk lewat berpapasan dengan sang kakek maka akan menunduk pandangannya sebagai tanda hormat mereka.
    Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti dengan hari,dan hari pun berganti dengan minggu tibalah pada acara yang sangat besar di kampung tersebut perayaan syukuran yang senantiasa dilakukan di sepanjang tahun ketika pasca panen berhasil dan kali ini bertepatan dngan keberhasilan panen sang kakek terkenal dengan kaya raya dan berilmu tnggi ini yang mendapatkan panen yang melimpah ruah berbeda denga penduduk yang lainnya yang merasa  kehilangan di panen kali ini Karena semuanya apa yang mereka tanam kena hama penyakit yang menyebabkan mereka semua gagal panen sehingga imbasnya yaitu ke mereka sendiri dalam menghadapi keberlangsungan hidup menyambung hidup yang kian hari kian parah menimpa mereka dalam mendapatkan sesuap nasi untuk di makan. Berebda dengan sang kakek yang  sangat bahagia karena bisa berhasil dalam panenya. Kadang masyarakat berpikir sang kakek dari dulu semenjak mereka mengenal nya tak ada sedikitpun keraguan ataupun ketidakberhasilannya dalam panen sang kakek selalu menang ddan sukses dalam panennya sehinng di usia yang sudah menginjak tua dia merayakan syukuruan yang sangat besar-besaran beda dengan syukuran- syukuran yang tahun sebelumnya kali ini sangat meriah bisa dibilang paling meriah di tengah masyarkat yang dirundung duka karena kesengsaraan dalam mengahadapi ujian yang sungguh berat ini karena berhadapan langsung dengan kelaparan yang bisa saja sewaktu-waktu mengancam di depan mata namun nasib mereka masih di selamatkan oleh sang kuasa samapi sekarang mereka masih tetap bisa menatap dunia ini dengan indah dan segar tanpa hambatan apapun.

    Malam pun tiba saat – saat dimana puncak acara sukuran para pendudukpun berbondong-bondong mengahadiri syukuran yang sangat meriah di alun-alun tepatnya di sebelah rumah kakek yang sangat bagus dan berhiaskan emas-emas dan perak sehingga membuat semuanya yang hadir merasa terkagum-kagum dengan keadaan yang menggetarkan hati ini. Semua penduduk yang dating langsung mengisi tempat duduk yang kosong dan sambil mencicipi semua hidangan yang tersaji deengan rapi yang disajikan oleh para pelayan sang kakek.
    Disaat para penduduk tekagum-kagum dengan enaknya hidangan yang disajikan dan dengan penampilan tarian yang mempesona yang sebelumnya tak pernah sediktpu ataupun sekalipun mereka saksikan sebelumnhya kini mereka melihatnya sendiri dan terkagum-kagum dengan keadaan yang ada di depan matany laksana ada di syurga yang penuh dengan kenikmatan yang tiada terkira. Langkah perlahan tapi pasti kini mulai terlihat muncul dari rumah yang paling bagus dan itulah sang kakek yang dari tadi ditunggu-tunggu  oleh para penduduk yang menyimpan beribu kebaikan dan beribu teka-teki yang sampai saat ini belum terjawab jawabannya hanya bisa mengira-ngira namun entahlah apakah yang dikira itu benar atau tidak tapi yang jelas bahwa itu semua adalah teka-teki yang belum mendapatkan jawabannya.

    Ketika sudah ada di hadapan para penduduk sang kakek pun dengan sikap yang lemah lembut dan berwibawa dalam berbicara perlahan menatap penduduk satu per satu secara perlahan dan mulai memberikan nasihat dan petuahnya bahwa sang kakek ingin penduduknya rukun damai dan oleh karena itu diantara semuanya harus kerjasama jangan ada yang saling bermusuhan dan di akhir perkataanya yang membuat penduduk merasa terheran-heran denagn sang kakek yaitu pamitnya beliau  kerana menceritakan tentang ajal bahwa ajal bisa emnghinggapi manusia kapanpun dan dimanapan oleh karena itu sebelum dia pulang dia menitipkan bahwa semua hartanya akan diberikan seluruhnya untuk pembangunan irigasi yaitu untuk mengairi sawah-sawah tiap penduduk dan sebagian lagi yaitu diberikan secara Cuma- Cuma kepada penduduk demi kesejahteraan penduduk.
    Dan ketika penduduk mendengar cerita tersebut merasa terharu karena kebaikan serat kedermawanan bahkan ada yang sampai menangis karena merasa sedih takut sebentar lagi kehilangan sang kakek. Dan akhirnya pesta syukuran itu berakhir dengan keterharuan dan kesenangan di setiap penduduk hingga akhir larut malam belalu baru selesai para pendudukpu satu per satu meninggalkan alun-alun dan pergi kerumahnya untuk menyimpan barang-barang bawaaannya dan tertidur pilas
    Keesokaan harinya pembangunan irigasi yang dijanjikan oleng sang kakek dilaksanakan oleh para penduduk, irigasi dibangun oleh mereka dari puncak gunung sampai ke dasar dan lembah gunung dan yang aneh serta tantangan bagi penduduk adalah melewati jurang yang sangat curam siapapun yang melewati bagian ini harus berhati-hati kalu tidak entahlah apa yang akan terjadi tapi yang jelas akan jatu ke jurang dan nyawanya sedikit yang akan terselamatkan. Para penduduk pun bingung akan tetapi ketika di tengah-tengah kebingungan mereka sang kakekpun dating dan menggunakan ilmu kanuragannya sehingga dengan cepat seluruh  penduduk yang ada disana berpindah bisa melewati jurang yang curam.
     Di tengah-terngah kesenangan penduduk karena bisa melewati jurang ternyata tinggal sang kakek yang belum melewatinya dan mereka bingnung kenapa sang kakek tidak melewatinya. Ternyata setelah di Tanya ke sang kake dia bisa memindahkn banyak orang tapi tidak dengan dirinya hingga akhirnya dia terjatuh ke jurang dan air irigasi pyang sungguh sangat deraspun mengikuti ke bawah dan mengalirlah air terjun yang sangat besar. Penduduk pun merasa sangat kehilangan sang kakek. Dan untuk mengenang jasa sang kakek akhirnya air terjun tersebut di namakan curug kanteh sampai sekarang.

=====================================================================

Pesan moral yang bisa diambil dari cerita tersebut adalah  :
1.    Baik hati
2.    Sopan santun
3.    Jujur
4.    Peduli terhadap sesama
5.    Bertanggung jawab
6.    amanah


Informan :1.  Ki Abdul
          2.  Ki Karim
komentar | | Read More...

Katagori

Hubungi Kami

  • Jalan Raya Jakarta KM. 04 Pakupatan Kota Serang - Banten

    No. Telp : 081906429430 | 087773391312

    Website : legendabanten
    Email : admin@legendabanten.com
  •  
    Copyright © 2013-2015. Legenda Rakyat Banten . All Rights Reserved.
    Developed by Muhammad Nasheh Ulwan | And Emal Priana | Powered by Elektronik Pintar